karsa hidayat
LOVE, EDUCATION AND FRIENDSHIP
blog ni berisi hal-hal yang pengen q tulis
Minggu, 04 Februari 2018
BUKA ESKUL PERTANIAN
Suatu ketika mendengar berita harga cabe rawit, bawang merah, bawang putih harganya mahal, sebagai guru saya hanya bisa mengajari mereka bagaimana menanam tanaman tersebut. Alhamdulilah sudah setahun jalan. Sunggu ironi negeri tropis tapi harga pangan mahal. Negeri tropis tersedia matahari sepanjang tahun, tidak perlu sinar matahari buatan untuk hanya sekedar menanam strobery.
Jumat, 21 September 2012
AKU HIDUP UNTUKMU AKU MATI TANPAMU
air mata ini menyadarkanku
kau takkan pernah menjadi milikku
tak pernah ku mengerti aku segila ini
aku hidup untukmu aku mati tanpamu
tak pernah kusadari aku sebodoh ini
aku hidup untukmu aku mati tanpamu
kau takkan pernah menjadi milikku
tak pernah ku mengerti aku segila ini
aku hidup untukmu aku mati tanpamu
tak pernah kusadari aku sebodoh ini
aku hidup untukmu aku mati tanpamu
Minggu, 21 Februari 2010
PEKERJAAN
2007-2009 les privat (maklum mahasiswa bokek hi hi)
2010-2010 SDN Cisarua (guru honor tak apa, sambil kuliah 700 ribu hi)
2011-sekarang PNS (Suatu kehormatan bisa mengabdi buat negara)
2012-sekarang GO (Ganesha operation) tambah tambah penghasilan buat 2 jagoanku mr. Kian n Kinan
2010-2010 SDN Cisarua (guru honor tak apa, sambil kuliah 700 ribu hi)
2011-sekarang PNS (Suatu kehormatan bisa mengabdi buat negara)
2012-sekarang GO (Ganesha operation) tambah tambah penghasilan buat 2 jagoanku mr. Kian n Kinan
PLP
Blog sekarang w gi PLP, tempatnya di daerah lebak Anyar, kec pesawahan, purwakarta. Rupanya kali ni w sedikit mujur, ga kya KKN. Tempat PLP w ga terpencil lagi, dket sm daerah kota. kebayang law w di tempatin di perbatasan subang-sumedang lagi. bisa2 wa mandi di sungai lagi kya kebo....hik..hik.
Pelaksanaannya dari tanggal 25 Januari pe tanggal 20 maret, sekitar 2 bulan.
to be continued..
blog dah dulu ya, tar w sambung lagi. wa nulis di halaman lho tuk ngelatih ngarang taw nulis sesuatu.Lagi pula blog ni ga pernah wa publikasiin, paling banter juga di profil facebook gw.....
Pelaksanaannya dari tanggal 25 Januari pe tanggal 20 maret, sekitar 2 bulan.
to be continued..
blog dah dulu ya, tar w sambung lagi. wa nulis di halaman lho tuk ngelatih ngarang taw nulis sesuatu.Lagi pula blog ni ga pernah wa publikasiin, paling banter juga di profil facebook gw.....
Selasa, 08 Desember 2009
proposal skripsi
B wa nitip data mentah proposal judul skripsi wa, bt banget kmarin ampir ja datanya ilang kena virus tp untungnya masih bisa di buka lagi, tar law wa mu edit tinggal buka halaman lho aja. ni proposal dah di ajuin tapi di tolak, kata dosen pembimbing kajian teoritisnya harus diperbaiki lagi.btttttt....
PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR FOTOGRAFIK DALAM PEMBELAJARAN IPS DI SD. (Penelitian Tindakan Kelas yang Dilakukan di Kelas IV SDN Pamungguan Kabupaten Sukabumi
Tahun Ajaran 2009/2010).
PROPOSAL PENELITIAN
Diajukan Untuk Mengikuti Ujian Sidang Proposal Penelitian Pada Pogram Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Purwakarta
Oleh:
Karsa Hidayat
NIM: 0602761
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
KAMPUS PURWAKARTA
2009
A. Judul Penelitian
PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR FOTOGRAFIK DALAM PEMBELAJARAN IPS DI SD. (Penelitian Tindakan Kelas yang Dilakukan di Kelas IV SDN Pamungguan Kabupaten Sukabumi Tahun Ajaran 2009/2010).
B. Latar Belakang Penelitian
Memasuki era globalisasi, pendidikan di Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam menghadapi tantangan zamannya. Dengan pendidikan, kualitas sumber daya manusia Indonesia dapat ditingkatkan sehingga Bangsa Indonesia mampu bergerak masuk dalam dunia persaingan dengan membangun kemandirian bangsa. Dengan pendidikan Bangsa Indonesia dapat terus-menerus mengembangkan potensi yang dimiliki agar bisa mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Di dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dijelaskan bahwa mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensip dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Melalui mata pelajaran IPS, peserta di arahkan untuk dapat menjadi warga negara indonesia yang demokratis dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.
Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mencapai tujuan pendidikan nasional. Karena peranannya yang cukup besar, maka seorang guru seyogyanya secara terus menerus berupaya mengembangkan profesionalitasnya sebagai wujud pengabdian dan layanan pendidikan.
Keberhasilan dalam pembelajaran dapat dipengaruhi faktor yang bersifat eksternal dan internal. Faktor-faktor tersebut kemudian dapat menjadi penunjang maupun penghambat proses pembelajaran. Wibawa dan Mukti (1992/1993: 1) mengungkapkan bahwa “di antara faktor-faktor yang di anggap menghambat proses belajar siswa di kelas berasal dari verbalisme, kekacauan makna, kegemaran berangan-angan, atau persepsi yang tidak tepat”.
Menyikapi pendapat tersebut, guru hendaknya memiliki kemampuan untuk mencari solusi yang tepat, guna mengatasi faktor-faktor penghambat proses belajar. Salah satu upaya yang bisa dilakukan guru untuk mengatasi hambatan proses belajar yaitu dengan penggunaan media pembelajaran yang relevan sehingga dapat membantu siswa memahami konsep-konsep yang diajarkan.
Seorang guru seyogyanya mampu memotivasi para siswa agar proses pembelajaran dapat berlangsung dalam susasana yang aktif, kreatif dan menyenangkan. Penggunaan media pembelajaran dapat meningkatkan motivasi siswa sehingga pembelajaran dapat berlangsung dalam suasana aktif, kreatif, dan menyenangkan.
Guru seyogyanya mampu memilih dan menggunakan media yang sesuai dengan topik pembelajaran. Dalam penyajian pembelajaran IPS, bermacam-macam media dapat dipilih dan diterapkan dalam pembelajaran, salah satunya adalah media gambar fotografik, penggunaan media ini dalam proses pembelajaran dapat memberikan gambaran yang lebih konkrit kepada peserta didik mengenai konsep yang sedang di pelajari.
Berdasarkan observasi pendahuluan, pelaksanaan pembelajaran IPS di SD Negeri Pamungguan Kabupaten Sukabumi dirasakan masih belum optimal. Kegiatan pembelajaran berlangsung membosankan karena penggunaan media pembelajaran kurang diperhatikan. Kegiatan pembelajaran masih bersifat informatif, penjelasan guru hanya menggunakan kata-kata sehingga murid tampak kesulitan memahami konsep-konsep yang di sampaikan. Oleh karena itu perlu diadakan perbaikan melalui penelitian tindakan kelas untuk mengatasi keadaan tersebut.
Dalam proses pembelajaran IPS, guru seyogyanya menggunakan media pembelajaran yang relevan. Salah satu media yang dianggap sesuai dengan materi pembelajaran diatas dalam menghantarkan peserta didik memperoleh hasil yang optimal adalah penggunaan media gambar fotografik. Dengan penggunaan media gambar fotografik dalam proses pembelajaran di harapkan berdampak pada perbaikan kualitas hasil belajar.
Berangkat dari permasalahan tersebut di atas, penelitian ini terfokus pada penggunaan media gambar fotografik pada pembelajaran IPS dengan judul “Penggunaan media gambar fotografik dalam pembelajaran IPS di SD”.
C. Rumusan Masalah
Tujuan pembelajaran IPS dapat berhasil dengan optimal apabila guru memiliki profesionalisme dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial. Setiap guru seyogyanya memberi fasilitas dan pengkondisian siswa yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Setiap guru seyogyanya menguasai berbagai bahan ajar dan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Secara lebih rinci rumusannya adalah sebagai berikut:
1. Apakah hasil belajar siswa kelas IV SDN Pamungguan Kabupaten Sukabumi dalam pembelajaran IPS sebelum penggunaan media gambar fotografik sudah optimal?
2. Apakah aktivitas belajar siswa kelas IV SDN Pamungguan Kabupaten Sukabumi dalam pembelajaran IPS dengan penggunaan media gambar fotografik berlangsung dengan efektif?
3. Apakah hasil belajar siswa kelas IV SDN Pamungguan Kabupaten Sukabumi dalam pembelajaran IPS setelah penggunaan media gambar fotografik dapat meningkat?
4. Kendala apa saja yang dihadapi guru kelas IV SDN Pamungguan Kabupaten Sukabumi dalam pembelajaran IPS?
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang aktivitas, minat dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran IPS setelah penggunaan media gambar fotografik. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui keoptimalan hasil pembelajaran siswa kelas IV SDN Pamungguan Kabupaten Sukabumi pada pembelajaran IPS sebelum penggunaan media gambar fotografik.
2. Untuk mengetahui keefektipan aktivitas siswa kelas IV SDN Pamungguan Kabupaten Sukabumi dalam pelajaran IPS dengan penggunaan media gambar fotografik.
3. Memperoleh data yang obyektif tentang hasil belajar siswa kelas IV SDN Pamungguan Kabupaten Sukabumi dalam pelajaran IPS setelah penggunaan media gambar fotografik.
4. Menemukan kendala yang di hadapi guru kelas IV SDN Pamungguan Kabupaten Sukabumi dalam pembelajaran IPS.
E. Manfaat Penelitian
Manfaat hasil penelitian ini adalah diperoleh informasi tentang perbaikan proses pembelajaran IPS melalui penggunaan media gambar fotografik. Secara khusus manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi peserta didik
a. Meningkatkan hasil belajar siswa melalui penggunaan media gambar fotografik.
b. Meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS melalui penggunaan media gambar fotografik.
c. Menghilangkan verbalisme pada diri siswa dalam memahami konsep-konsep pembelajaran IPS melalui penggunaan media gambar fotografik.
2. Bagi guru
a. Guru dapat memperoleh gambaran hasil pembelajaran IPS sebelum dan sesudah penggunaan media gambar fotografik untuk perbaikan proses belajar selanjutnya.
b. Meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran melalui penggunaan media gambar fotografik.
c. Menggugah guru untuk menggunakan media gambar fotografik dalam pembelajaran IPS di SD.
F. Klarifikasi Konsep
Dalam penelitian ini ada beberapa istilah yang perlu di jelaskan agar tidak terjadi salah penafsiran makna. Istilah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Media gambar fotografik
Media pembelajaran merupakan alat bantu berupa gambar fotografik, poster, lukisan, diagram, organigram, grafik dan lain-lain yang digunakan guru dalam menerangkan materi pembelajaran dan berkomunikasi dengan peserta didik, sehingga memudahkan dalam memberi pengertian atau pemahaman mengenai materi atau konsep yang di ajarkan.
Media gambar fotografik termasuk ke dalam gambar diam/mati (still pictures), misalnya gambar tentang manusia, binatang, tempat, atau objek lainnya yang ada kaitannya dengan isi/bahan pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Dalam pelaksanaanya, guru dapat melibatkan para siswa untuk mencari gambar diam ini. Gambar fotografik ada yang tunggal dan adapula yang berseri, misalnya fotonovela yaitu sekumpulan gambar fotografik yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.
2. Pembelajaran IPS di sekolah dasar
Ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang di berikan di sekolah dasar, mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu, fenomena dan masalah-masalah sosial.
Pembelajaran IPS di sekolah dasar bergfungsi mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk melihat kenyataan sosial yang harus dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari. Bahan kajian IPS di SD mencakup geografi, sejarah, sosiologi dan ekonomi.
Dari pengetian diatas, skripsi berjudul “ Penggunaan media gambar fotografik dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar”, mempunyai tujuan memperbaiki pembelajaran IPS melalui penggunaan media gambar fotografik. Dengan menggunakan media gambar fotografik, diharapkan peserta didik akan terhindar dari verbalisme sehingga pembelajaran IPS lebih bermakna.
G. Kajian teoritis
1. Media Gambar fotografik
‘Media ialah pembawa pesan yang berasal dari suatu sumber pesan (yang dapat berupa orang atau benda) kepada penerima pesan dalam proses belajar mengajar, penerima pesan itu ialah siswa’ (Romiszowski dalam Wibawa dan Mukti 1992/1993:8). Media pembelajaran merupakan alat bantu pembelajaran yang digunakan guru untuk menjelaskan materi pelajaran agar siswa terhindar dari verbalisme sehingga memudahkan dalam pemahaman konsep-konsep yang di ajarkan.
Wibawa dan mukti (1992/1993: 12-13) menjelaskan bahwa penggunaan media gambar seyogyanya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Kesusaian media pembelajaran dengan tujuan yang ingin dicapai,
b. Kesesuaian karakteristik media dengan karakteristik pembelajaran,
c. Kecanggihan media pengajaran dibandingkan dengan tingkat perkembangan siswa,
d. Kesuaian media pengajaran dengan minat, kemapuan dan wawasan siswa,
e. Kesuaian karakteristik media dengan latar belakang sosial budaya,
f. Kemudahan memperoleh dan menggunakan media pembelajaran di sekolah,
g. Kualitas teknis media pembelajaran yang membuat pelajaran yang disajikan menjadi lebih mudah dicerna siswa.
Penggunaan media pembelajaran seyogyanya di pilih secara sistemik agar efektif dan efisien. Pemilihan media gambar harus sesuai dengan materi yang sedang diajarkan, jika materi yang diajarkan adalah kenampakan alam maka media gambarnya juga harus tentang kenampakan alam seperti gurun, sungai, bendungan dan lain-lain.
“Media gambar fotografik termasuk ke dalam gambar diam/mati (still pictures)”(Hery Hermawan dkk,2007:10). Contoh media gambar fotografik adalah gambar tentang manusia, binatang, tempat, atau objek lainnya yang ada kaitannya dengan isi/bahan pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Dalam pelaksanaanya, guru dapat melibatkan para siswa untuk mencari gambar diam ini. Gambar fotografik ada yang tunggal dan adapula yang berseri, misalnya fotonovela yaitu sekumpulan gambar fotografik yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.
Gambar fotografik merupakan media yang sangat membantu dalam proses pembelajaran, media gambar fotografik dapat memberikan gambaran obyek langka yang tidak terdapat di sekitar lingkungan peserta didik. Misalnya adalah ketika seorang guru menerangkan kenampakan alam berupa gurun, tetapi di daerah sekitar tidak ada gurun maka media gambar gurun dapat digunakan untuk membantu memecahkan masalah tersebut. Dengan media gambar siswa dapat melihat bentuk gurun walaupun tidak melihat daerahnya secara langsung.
Dalam pembelajaran IPS, penggunaan media pembelajaran mengikuti prosedur dengan tahapan sebagai berikut:
a. Tahap persiapan
Sebelum menggunakan media pembelajaran, guru seyogyanya melakukan persiapan agar pengunaannya dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam tahap persiapan guru mempelajari buku petunjuk atau yang telah tersedia secara seksama, menyiapkan peralatan yang dianggap perlu untuk menggunakan media tersebut, mempertimbangkan media apakah digunakan secara perorangan atau kelompok, mengupayakan murid mengerti tujuan yang ingin dicapai dengan penggunaan media tersebut, dan melakukan tata letak agar murid dapat melihat dan mengamati media tersebut.
b. Tahap pelaksanaan (penyajian)
Selama menggunakan media pembelajaran fotografik, seyogyanya diperhatikan hal-hal yang dapat menggangu perhatian atau konsentrasi murid. Guru harus mampu membawa murid terlibat aktif agar peserta didik merasa senang dan semangat mengikuti proses pembelajaran.
c. Tindak lanjut
Kegiatan ini dilakukan untuk memantapkan pemahaman murid terhadap pokok-pokok materi atau pesan pembelajaran yang hendak disampaikan melalui media pembelajaran tersebut. Pada tahap ini guru melakukan evaluasi untuk melihat ketercapaian tujuan. Pelaksanaan evalusi dapat berbentuk lisan, percobaan, atau praktek.
Wibawa dan mukti (1992/1993:89) mengungkapkan bahwa “peranan media dalam proses pembelajaran sebagai penyalur informasi”. Media yang dikembangkan dengan baik diharapkan dapat membantu murid dalam memahami dan mencerna informasi yang di sampaikan melalui penggunaan media gambar.
2. Pembelajaran IPS di sekolah dasar
Belajar merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat disengaja dan disadari dalam memperoleh ilmu. Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang disebabkan individu, maka orang yang sudah belajar akan nampak perubahan tingkah lakunya (Burhanudin.TR 2007:81).
Belajar adalah kegiatan yang di sengaja dan di sadari, jika tidak di sengaja dan disadari maka tidak dapat dinamakan dengan proses belajar. Belajar dapat merubah tingkah laku seseorang jika tidak ada perubahan maka seseorang tidak dapat dikatakan sudah belajar.
Menurut Hamalik (1987:4) ”belajar merupakan proses perubahan tingkah laku melalui interaksi antara individu dengan lingkungan”. Olek karena itu, kedudukan dan peranan guru merupakan faktor yang penting dalam proses pembelajaran. Guru berperan sebagai fasilitator dalam pembelajaran.
Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku pada peserta didik dalam upaya menuju kedewasaan yang ditandai adanya hubungan timbal balik dengan lingkungan dan berlangsung sepanjang hayat. Belajar tidak hanya berlangsung di lembaga formal saja, bisa berlangsung dimana saja seperti di tempat kerja atau dimana saja manusia berada.
“Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi tujuan pembelajaran”. (Hamalik, 1995:57). Pembelajaran dapat berlangsung jika terdapat material, fasilitas, perlengkapan yang mendukung. Tanpa perlengkapan pembelajaran tidak dapat berlangsung.
Pembelajaran merupakan proses pemerolehan pengetahuan, penguasaan kemahiran (keterampilan), pembentukan sikap dan kepercayaan. Proses pembelajaran berlaku sepanjang hayat, dimana saja dan kapan saja. Proses pembelajaran tidak dibatasi oleh ruang kelas, akan tetapi dapat berlangsung di mana saja.
“Ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan mata pelajaran yang di ajarkan di SD, mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial” (standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah, 2006:575).
Ilmu pengetahuan sosial merupakan ilmu pengetahuan yang memadukan sejumlah konsep pilihan dari cabang ilmu-ilmu sosial dan ilmu lainnya serta kemudian diolah berdasarkan prinsip pendidikan dan didaktik untuk dijadikan program pembelajaran pada tingkat persekolahan (Djahiri, 1978/1979:2).
IPS merupakan ilmu yang bercabang seperti ilmu sejarah, ekonomi dan geografi. Di SD, IPS di ajarkan secara terpadu, tidak ada pemilahan cabang-cabang ilmunya. Ilmu sejarah, ekonomi dan geografi di ajarkan dalam satu mata pelajaran. Pemilahan cabang ilmu IPS terletak pada judul perbabnya.
Menurut Sumaatmadja (1999:13-14) mengungkapkan bahwa:
Pendidikan IPS pada hakikatnya merupakan sistem pembelajaran yang membahas menyoroti-menelaah mengkaji gejala (peristiwa, isu dan fenomena) dan masalah sosial dari berbagai aspek kehidupan atau menginterelasikan berbagai aspek kehidupan sosial dalam membahas gejala dan masalah sosial.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa IPS adalah mata pelajaran yang mempelajari, menelaah, menganalisis gejala dan masalah sosial yang didasarkan pada bahan kajian geografi, sejarah, sosiologi dan ekonomi.
H. Metode Penelitian
1. Jenis penelitian
Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). “Metode penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja di munculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama” (Arikunto, 2006:3). PTK merupakan sebuah tindakan yang disengaja untuk memperbaiki kualitas pembelajaran dan dilakukan dengan melibatkan siswa, guru dan pelbagai pihak yang berkepentingan.
Suyanto (1996/1997: 4) mengungkapkan bahwa “PTK merupakan bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas secara lebih profesional’. Dengan demikian, PTK dipandang sebagai upaya guru untuk merefleksi diri berkaitan dengan tugas yang dilakukannya dalam upaya proses pembelajaran sehingga diharapkan adanya peningkatan kualitas hasil belajar, sebagaimana diungkapkan oleh Kasbolah (1998/1999:15) “penelitian tindakan kelas bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran”.
Wiriatmadja (2006:13) mengungkapkan bahhwa:
Penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Mereka dapat mencobakan suatu gagasan perbaikan dalam praktek pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu”.
Dengan PTK guru dapat mencobakan suatu gagasan perbaikan dalam memecahkan masalah pembelajaran. Setelah PTK sudah dilaksanakan, guru dapat melihat secara nyata pengaruh penelitian tersebut. Berhasil atau tidaknya PTK yang dilaksanakan dapat terlihat dari hasil belajar siswa. Jika terjadi peningkatan hasil belajar maka PTK tersebut dapat dijadikan bahan dalam memperbaiki pembelajaran.
Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian praktis yang dilakukan di kelas dan bertujuan untuk memperbaiki hasil pembelajaran. Kemmis dan Carr dalam Kasbolah (1998:13) mengemukakan bahwa ‘penelitian tindakan merupakan suatu penelitian yang bersifat reflektif yang dilakukan pelaku dalam masyarakat sosial dan untuk memperbaiki pekerjaannya, memahami pekerjaan ini serta situasi dimana pekerjaan dilakukan’. Sedangkan Ebbut dalam Kasbolah (1998:16) menyatakan bahwa ‘penelitian tindakan yang merupakan studi yang sistematis dilakukan dalam upaya memperbaiki praktek dalam pendidikan dengan melakukan tindakan’.
2. Lokasi dan subjek penelitian
a. Lokasi penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SDN Pamungguan Kecamatan Kalapanunggal Kabupaten Sukabumi. Secara geografis SD ini berjarak 5 km sebelah timur ibukota Kecamatan Kalapanunggal. Jumlah ruangan terdiri dari tujuh ruang, meliputi enam ruang belajar dan satu ruang kantor. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Pamungguan dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
1) Nilai rata-rata mata pelajaran IPS kelas IV pada ulangan semester genap tahun ajaran 2009/2010 masih rendah, sehingga perlu diadakan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan hasil pembelajarannya.
2) Penelitian tindakan kelas di SDN Pamungguan jarang dilakukan sehingga perlu di adakannya penelitian tindakan kelas agar guru yang mengajar disana terinpirasi untuk melakukan kegiatan penelitian. Semakin sering PTK di lakukan maka kualitas hasil pembelajaran akan semakin meningkat.
3) SDN Pamungguan merupakan SD tempat peneliti bekerja sebagai guru honorer sehingga pelaksanaanya akan lebih lancar.
b. Subyek penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah guru dan murid kelas IV SDN Pamungguan Kecamatan Kalapanungal Kabupaten Sukabumi. Jumlah muridnya 30 orang dengan rincian 13 laki-laki dan 17 perempuan. Guru yang menjadi subyek penelitian ini berpendidikan D2.
3. Data penelitian
Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari: a) subyek siswa kelas IV SDN Pamunguan Kecamatan Kalapanunggal Kabupaten Sukabumi, b) guru sebagai peneliti, c) kelas sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran, d) dokumen sekolah sebagai data penunjang.
4. Instrumen pengumpulan data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi partisipatif dan dokumen hasil praktek. Instrumen penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu: Lembar observasi, lembar wawancara, kuisioner, evaluasi hasil belajar dan catatan lapangan.
Instrumen pengumpulan data yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Lembar observasi. Digunakan untuk mengamati rencana dan pelaksanaan pembelajaran peserta didik dengan pengunaan media gambar. Proses pembelajaran yang diamati antara lain peserta didik yang berkenaan dengan aspek-aspek pelaksanaan pengamatan, mengidentifikasi masalah dan membuat kesimpulan.
b. Pedoman wawancara. Pedoman wawancara berfungsi untuk mengetahui bagaimana persepsi peserta didik tentang proses pembelajaran yang diselenggarakan oleh guru dengan penggunaan media gambar.
c. Kuisioner. Digunakan untuk menjaring keabsahan data dan reliabelitas (keajegan data) mengenai pendapat guru mitra penelitian, guru teman sejawat, kepala sekolah dan siswa tentang penggunaan media gambar.
d. Evaluasi hasil belajar. Dilakukan untuk menjaring data validitas dan reliabilitas data mengenai peningkatan hasil belajar peserta didik meliputi hasil post tes, tes formatif, pengamatan proses pembelajaran mengenai hasil belajar tentang kenampakan alam dan keaneka ragaman sosial indonesia dengan penggunaan media gambar.
e. Catatan lapangan, dipakai untuk memperoleh data secara objektif yang tidak dapat terekam melalui lembar obaservasi, seperti aktivitas siswa, reaksi mereka selama penelitian berlangsung dan petunjuk-petunjuk lain yang dapat dipakai sebagai bahan dalam analisis dan untuk keperluan refleksi.
5. Teknik analisis data
Bentuk penelitian tindakan yang diterapkan adalah penelitian tindakan yang dilakukan secara kolaboratif. Pengolahan dan analisis data pada penelitian ini dilaksanakan melalaui tahap-tahap sebagai berikut:
a. Pengumpulan data
Data yang diperoleh dapat berupa data kuantitatif dan data kulaitatif. Data kuantitatif diperoleh dari rencana pembelajaran, pelaksanaan tindakan saat kegiatan belajar mengajar, hasil tes belajar peserta didik dan dari lembar observasi. Sedangkan data kualitatif di ambil dari aktivitas guru dan murid, antusias murid dan mutu kegiatan pembelajaran yang dilakukan.
b. Validasi data
Agar diketahui keabsahannya, data yang terkumpul dicek dan recek. Teknik validasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1) Triangulasi data, yaitu teknik pemeriksaan kesahihan (validitas) data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Dengan demikian, melalui triangulasi, peneliti dapat merecek temuannya dengan jalan membandingkannya dengan berbagai sumber, metode atau teori (Moleong, 2006: 332). Untuk itu maka peneliti dapat melakukanya dengan jalan mengajukan berbagai pertanyaan yang bervariasi, melakukan pengecekan dengan berbagai sumber data, dan menggunakan bermacam-macam metode agar pengecekan kepercayaan data dapat dilkukan seobjektif mungkin.
2) Audit trail, yaitu mengecek kesahihan temuan penelitian dan prosedur penelitian yang telah diperiksa dengan menginformasikan dan mendiskusikan temuan penelitian tersebut untuk mendapatkan masukan dan tangapan-tangapan, sehingga bisa memperoleh anaisis dan validitas yang tinggi.
3) Member check, yatiu mengecek kebenaran data temuan penelitian dengan menginformasikan kepada responden (sumber iformasi). Selain itu, data yang diperoleh tersebut juga dikonfirmasikan kepada teman sejawat melalui refleksi, diskusi balikan pada setiap siklus sampai akhir keseluruhan pelaksanaan penelitian tindakan, sehingga terjaring data yang lengkap dan memiliki kadar validitas yang tinggi.
c. Interpretasi data
Dari temuan data penelitian diinterpretasikan dengan merujuk kepada acuan teoritis yang disepakati atau berdasarkann intuisi guru mengenai situasi pembelajaran yang baik tentang penggunaan media ambar, sehingga diperoleh suatu kerangka yang bermakna terhadap kualitas pembelajaran.
Arikunto, dkk. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:Bumi Aksara
Burhanudin, TR.(2007). Pendekatan, Metode, dan Teknik Penelitaian pendidikan (sebuah pengantar praktis).Purwakarta:untuk lingkungan sendiri
Depdikbud.(1995/1996).Pedoman Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar di Sekolah dasar.Jakarta: Dirjen Dikdasmen: Direktorat Pendidikan Dasar.
Hamalik, o.(1995). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Hery Hermawan, A, Badru zaman dan cepi riyana.(2008).Media Pembelajaran Sekolah Dasar.Bandung:UPI PRESS.
Kasbolah, K.E.S (1998/1999). Penelitian Tindakan Kelas (PTK).Jakarta: Departemen P dan K DIKTI, PGSD.
Sudjana, N.(2005).Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar.Bandung:Sinarbaru Algesindo.
Sumaatmadja,N.(1999).Pengajaran IPS di SD.Bandung:IKIP Bandung
Wibawa, Basuki dan Farida Mukti.(1992/1995).Media Pengajaran.Jakarta:Depdikbud, dirjen dikti PPTK.
Wiraatmadja, R.(2006).Metode Penelitian Tindakan Kelas.Bandung:Remaja Rosdakarya.
PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR FOTOGRAFIK DALAM PEMBELAJARAN IPS DI SD. (Penelitian Tindakan Kelas yang Dilakukan di Kelas IV SDN Pamungguan Kabupaten Sukabumi
Tahun Ajaran 2009/2010).
PROPOSAL PENELITIAN
Diajukan Untuk Mengikuti Ujian Sidang Proposal Penelitian Pada Pogram Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Purwakarta
Oleh:
Karsa Hidayat
NIM: 0602761
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
KAMPUS PURWAKARTA
2009
A. Judul Penelitian
PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR FOTOGRAFIK DALAM PEMBELAJARAN IPS DI SD. (Penelitian Tindakan Kelas yang Dilakukan di Kelas IV SDN Pamungguan Kabupaten Sukabumi Tahun Ajaran 2009/2010).
B. Latar Belakang Penelitian
Memasuki era globalisasi, pendidikan di Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam menghadapi tantangan zamannya. Dengan pendidikan, kualitas sumber daya manusia Indonesia dapat ditingkatkan sehingga Bangsa Indonesia mampu bergerak masuk dalam dunia persaingan dengan membangun kemandirian bangsa. Dengan pendidikan Bangsa Indonesia dapat terus-menerus mengembangkan potensi yang dimiliki agar bisa mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Di dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dijelaskan bahwa mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensip dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Melalui mata pelajaran IPS, peserta di arahkan untuk dapat menjadi warga negara indonesia yang demokratis dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.
Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mencapai tujuan pendidikan nasional. Karena peranannya yang cukup besar, maka seorang guru seyogyanya secara terus menerus berupaya mengembangkan profesionalitasnya sebagai wujud pengabdian dan layanan pendidikan.
Keberhasilan dalam pembelajaran dapat dipengaruhi faktor yang bersifat eksternal dan internal. Faktor-faktor tersebut kemudian dapat menjadi penunjang maupun penghambat proses pembelajaran. Wibawa dan Mukti (1992/1993: 1) mengungkapkan bahwa “di antara faktor-faktor yang di anggap menghambat proses belajar siswa di kelas berasal dari verbalisme, kekacauan makna, kegemaran berangan-angan, atau persepsi yang tidak tepat”.
Menyikapi pendapat tersebut, guru hendaknya memiliki kemampuan untuk mencari solusi yang tepat, guna mengatasi faktor-faktor penghambat proses belajar. Salah satu upaya yang bisa dilakukan guru untuk mengatasi hambatan proses belajar yaitu dengan penggunaan media pembelajaran yang relevan sehingga dapat membantu siswa memahami konsep-konsep yang diajarkan.
Seorang guru seyogyanya mampu memotivasi para siswa agar proses pembelajaran dapat berlangsung dalam susasana yang aktif, kreatif dan menyenangkan. Penggunaan media pembelajaran dapat meningkatkan motivasi siswa sehingga pembelajaran dapat berlangsung dalam suasana aktif, kreatif, dan menyenangkan.
Guru seyogyanya mampu memilih dan menggunakan media yang sesuai dengan topik pembelajaran. Dalam penyajian pembelajaran IPS, bermacam-macam media dapat dipilih dan diterapkan dalam pembelajaran, salah satunya adalah media gambar fotografik, penggunaan media ini dalam proses pembelajaran dapat memberikan gambaran yang lebih konkrit kepada peserta didik mengenai konsep yang sedang di pelajari.
Berdasarkan observasi pendahuluan, pelaksanaan pembelajaran IPS di SD Negeri Pamungguan Kabupaten Sukabumi dirasakan masih belum optimal. Kegiatan pembelajaran berlangsung membosankan karena penggunaan media pembelajaran kurang diperhatikan. Kegiatan pembelajaran masih bersifat informatif, penjelasan guru hanya menggunakan kata-kata sehingga murid tampak kesulitan memahami konsep-konsep yang di sampaikan. Oleh karena itu perlu diadakan perbaikan melalui penelitian tindakan kelas untuk mengatasi keadaan tersebut.
Dalam proses pembelajaran IPS, guru seyogyanya menggunakan media pembelajaran yang relevan. Salah satu media yang dianggap sesuai dengan materi pembelajaran diatas dalam menghantarkan peserta didik memperoleh hasil yang optimal adalah penggunaan media gambar fotografik. Dengan penggunaan media gambar fotografik dalam proses pembelajaran di harapkan berdampak pada perbaikan kualitas hasil belajar.
Berangkat dari permasalahan tersebut di atas, penelitian ini terfokus pada penggunaan media gambar fotografik pada pembelajaran IPS dengan judul “Penggunaan media gambar fotografik dalam pembelajaran IPS di SD”.
C. Rumusan Masalah
Tujuan pembelajaran IPS dapat berhasil dengan optimal apabila guru memiliki profesionalisme dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial. Setiap guru seyogyanya memberi fasilitas dan pengkondisian siswa yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Setiap guru seyogyanya menguasai berbagai bahan ajar dan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Secara lebih rinci rumusannya adalah sebagai berikut:
1. Apakah hasil belajar siswa kelas IV SDN Pamungguan Kabupaten Sukabumi dalam pembelajaran IPS sebelum penggunaan media gambar fotografik sudah optimal?
2. Apakah aktivitas belajar siswa kelas IV SDN Pamungguan Kabupaten Sukabumi dalam pembelajaran IPS dengan penggunaan media gambar fotografik berlangsung dengan efektif?
3. Apakah hasil belajar siswa kelas IV SDN Pamungguan Kabupaten Sukabumi dalam pembelajaran IPS setelah penggunaan media gambar fotografik dapat meningkat?
4. Kendala apa saja yang dihadapi guru kelas IV SDN Pamungguan Kabupaten Sukabumi dalam pembelajaran IPS?
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang aktivitas, minat dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran IPS setelah penggunaan media gambar fotografik. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui keoptimalan hasil pembelajaran siswa kelas IV SDN Pamungguan Kabupaten Sukabumi pada pembelajaran IPS sebelum penggunaan media gambar fotografik.
2. Untuk mengetahui keefektipan aktivitas siswa kelas IV SDN Pamungguan Kabupaten Sukabumi dalam pelajaran IPS dengan penggunaan media gambar fotografik.
3. Memperoleh data yang obyektif tentang hasil belajar siswa kelas IV SDN Pamungguan Kabupaten Sukabumi dalam pelajaran IPS setelah penggunaan media gambar fotografik.
4. Menemukan kendala yang di hadapi guru kelas IV SDN Pamungguan Kabupaten Sukabumi dalam pembelajaran IPS.
E. Manfaat Penelitian
Manfaat hasil penelitian ini adalah diperoleh informasi tentang perbaikan proses pembelajaran IPS melalui penggunaan media gambar fotografik. Secara khusus manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi peserta didik
a. Meningkatkan hasil belajar siswa melalui penggunaan media gambar fotografik.
b. Meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS melalui penggunaan media gambar fotografik.
c. Menghilangkan verbalisme pada diri siswa dalam memahami konsep-konsep pembelajaran IPS melalui penggunaan media gambar fotografik.
2. Bagi guru
a. Guru dapat memperoleh gambaran hasil pembelajaran IPS sebelum dan sesudah penggunaan media gambar fotografik untuk perbaikan proses belajar selanjutnya.
b. Meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran melalui penggunaan media gambar fotografik.
c. Menggugah guru untuk menggunakan media gambar fotografik dalam pembelajaran IPS di SD.
F. Klarifikasi Konsep
Dalam penelitian ini ada beberapa istilah yang perlu di jelaskan agar tidak terjadi salah penafsiran makna. Istilah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Media gambar fotografik
Media pembelajaran merupakan alat bantu berupa gambar fotografik, poster, lukisan, diagram, organigram, grafik dan lain-lain yang digunakan guru dalam menerangkan materi pembelajaran dan berkomunikasi dengan peserta didik, sehingga memudahkan dalam memberi pengertian atau pemahaman mengenai materi atau konsep yang di ajarkan.
Media gambar fotografik termasuk ke dalam gambar diam/mati (still pictures), misalnya gambar tentang manusia, binatang, tempat, atau objek lainnya yang ada kaitannya dengan isi/bahan pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Dalam pelaksanaanya, guru dapat melibatkan para siswa untuk mencari gambar diam ini. Gambar fotografik ada yang tunggal dan adapula yang berseri, misalnya fotonovela yaitu sekumpulan gambar fotografik yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.
2. Pembelajaran IPS di sekolah dasar
Ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang di berikan di sekolah dasar, mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu, fenomena dan masalah-masalah sosial.
Pembelajaran IPS di sekolah dasar bergfungsi mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk melihat kenyataan sosial yang harus dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari. Bahan kajian IPS di SD mencakup geografi, sejarah, sosiologi dan ekonomi.
Dari pengetian diatas, skripsi berjudul “ Penggunaan media gambar fotografik dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar”, mempunyai tujuan memperbaiki pembelajaran IPS melalui penggunaan media gambar fotografik. Dengan menggunakan media gambar fotografik, diharapkan peserta didik akan terhindar dari verbalisme sehingga pembelajaran IPS lebih bermakna.
G. Kajian teoritis
1. Media Gambar fotografik
‘Media ialah pembawa pesan yang berasal dari suatu sumber pesan (yang dapat berupa orang atau benda) kepada penerima pesan dalam proses belajar mengajar, penerima pesan itu ialah siswa’ (Romiszowski dalam Wibawa dan Mukti 1992/1993:8). Media pembelajaran merupakan alat bantu pembelajaran yang digunakan guru untuk menjelaskan materi pelajaran agar siswa terhindar dari verbalisme sehingga memudahkan dalam pemahaman konsep-konsep yang di ajarkan.
Wibawa dan mukti (1992/1993: 12-13) menjelaskan bahwa penggunaan media gambar seyogyanya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Kesusaian media pembelajaran dengan tujuan yang ingin dicapai,
b. Kesesuaian karakteristik media dengan karakteristik pembelajaran,
c. Kecanggihan media pengajaran dibandingkan dengan tingkat perkembangan siswa,
d. Kesuaian media pengajaran dengan minat, kemapuan dan wawasan siswa,
e. Kesuaian karakteristik media dengan latar belakang sosial budaya,
f. Kemudahan memperoleh dan menggunakan media pembelajaran di sekolah,
g. Kualitas teknis media pembelajaran yang membuat pelajaran yang disajikan menjadi lebih mudah dicerna siswa.
Penggunaan media pembelajaran seyogyanya di pilih secara sistemik agar efektif dan efisien. Pemilihan media gambar harus sesuai dengan materi yang sedang diajarkan, jika materi yang diajarkan adalah kenampakan alam maka media gambarnya juga harus tentang kenampakan alam seperti gurun, sungai, bendungan dan lain-lain.
“Media gambar fotografik termasuk ke dalam gambar diam/mati (still pictures)”(Hery Hermawan dkk,2007:10). Contoh media gambar fotografik adalah gambar tentang manusia, binatang, tempat, atau objek lainnya yang ada kaitannya dengan isi/bahan pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Dalam pelaksanaanya, guru dapat melibatkan para siswa untuk mencari gambar diam ini. Gambar fotografik ada yang tunggal dan adapula yang berseri, misalnya fotonovela yaitu sekumpulan gambar fotografik yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya.
Gambar fotografik merupakan media yang sangat membantu dalam proses pembelajaran, media gambar fotografik dapat memberikan gambaran obyek langka yang tidak terdapat di sekitar lingkungan peserta didik. Misalnya adalah ketika seorang guru menerangkan kenampakan alam berupa gurun, tetapi di daerah sekitar tidak ada gurun maka media gambar gurun dapat digunakan untuk membantu memecahkan masalah tersebut. Dengan media gambar siswa dapat melihat bentuk gurun walaupun tidak melihat daerahnya secara langsung.
Dalam pembelajaran IPS, penggunaan media pembelajaran mengikuti prosedur dengan tahapan sebagai berikut:
a. Tahap persiapan
Sebelum menggunakan media pembelajaran, guru seyogyanya melakukan persiapan agar pengunaannya dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam tahap persiapan guru mempelajari buku petunjuk atau yang telah tersedia secara seksama, menyiapkan peralatan yang dianggap perlu untuk menggunakan media tersebut, mempertimbangkan media apakah digunakan secara perorangan atau kelompok, mengupayakan murid mengerti tujuan yang ingin dicapai dengan penggunaan media tersebut, dan melakukan tata letak agar murid dapat melihat dan mengamati media tersebut.
b. Tahap pelaksanaan (penyajian)
Selama menggunakan media pembelajaran fotografik, seyogyanya diperhatikan hal-hal yang dapat menggangu perhatian atau konsentrasi murid. Guru harus mampu membawa murid terlibat aktif agar peserta didik merasa senang dan semangat mengikuti proses pembelajaran.
c. Tindak lanjut
Kegiatan ini dilakukan untuk memantapkan pemahaman murid terhadap pokok-pokok materi atau pesan pembelajaran yang hendak disampaikan melalui media pembelajaran tersebut. Pada tahap ini guru melakukan evaluasi untuk melihat ketercapaian tujuan. Pelaksanaan evalusi dapat berbentuk lisan, percobaan, atau praktek.
Wibawa dan mukti (1992/1993:89) mengungkapkan bahwa “peranan media dalam proses pembelajaran sebagai penyalur informasi”. Media yang dikembangkan dengan baik diharapkan dapat membantu murid dalam memahami dan mencerna informasi yang di sampaikan melalui penggunaan media gambar.
2. Pembelajaran IPS di sekolah dasar
Belajar merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat disengaja dan disadari dalam memperoleh ilmu. Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang disebabkan individu, maka orang yang sudah belajar akan nampak perubahan tingkah lakunya (Burhanudin.TR 2007:81).
Belajar adalah kegiatan yang di sengaja dan di sadari, jika tidak di sengaja dan disadari maka tidak dapat dinamakan dengan proses belajar. Belajar dapat merubah tingkah laku seseorang jika tidak ada perubahan maka seseorang tidak dapat dikatakan sudah belajar.
Menurut Hamalik (1987:4) ”belajar merupakan proses perubahan tingkah laku melalui interaksi antara individu dengan lingkungan”. Olek karena itu, kedudukan dan peranan guru merupakan faktor yang penting dalam proses pembelajaran. Guru berperan sebagai fasilitator dalam pembelajaran.
Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku pada peserta didik dalam upaya menuju kedewasaan yang ditandai adanya hubungan timbal balik dengan lingkungan dan berlangsung sepanjang hayat. Belajar tidak hanya berlangsung di lembaga formal saja, bisa berlangsung dimana saja seperti di tempat kerja atau dimana saja manusia berada.
“Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi tujuan pembelajaran”. (Hamalik, 1995:57). Pembelajaran dapat berlangsung jika terdapat material, fasilitas, perlengkapan yang mendukung. Tanpa perlengkapan pembelajaran tidak dapat berlangsung.
Pembelajaran merupakan proses pemerolehan pengetahuan, penguasaan kemahiran (keterampilan), pembentukan sikap dan kepercayaan. Proses pembelajaran berlaku sepanjang hayat, dimana saja dan kapan saja. Proses pembelajaran tidak dibatasi oleh ruang kelas, akan tetapi dapat berlangsung di mana saja.
“Ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan mata pelajaran yang di ajarkan di SD, mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial” (standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah, 2006:575).
Ilmu pengetahuan sosial merupakan ilmu pengetahuan yang memadukan sejumlah konsep pilihan dari cabang ilmu-ilmu sosial dan ilmu lainnya serta kemudian diolah berdasarkan prinsip pendidikan dan didaktik untuk dijadikan program pembelajaran pada tingkat persekolahan (Djahiri, 1978/1979:2).
IPS merupakan ilmu yang bercabang seperti ilmu sejarah, ekonomi dan geografi. Di SD, IPS di ajarkan secara terpadu, tidak ada pemilahan cabang-cabang ilmunya. Ilmu sejarah, ekonomi dan geografi di ajarkan dalam satu mata pelajaran. Pemilahan cabang ilmu IPS terletak pada judul perbabnya.
Menurut Sumaatmadja (1999:13-14) mengungkapkan bahwa:
Pendidikan IPS pada hakikatnya merupakan sistem pembelajaran yang membahas menyoroti-menelaah mengkaji gejala (peristiwa, isu dan fenomena) dan masalah sosial dari berbagai aspek kehidupan atau menginterelasikan berbagai aspek kehidupan sosial dalam membahas gejala dan masalah sosial.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa IPS adalah mata pelajaran yang mempelajari, menelaah, menganalisis gejala dan masalah sosial yang didasarkan pada bahan kajian geografi, sejarah, sosiologi dan ekonomi.
H. Metode Penelitian
1. Jenis penelitian
Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). “Metode penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja di munculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama” (Arikunto, 2006:3). PTK merupakan sebuah tindakan yang disengaja untuk memperbaiki kualitas pembelajaran dan dilakukan dengan melibatkan siswa, guru dan pelbagai pihak yang berkepentingan.
Suyanto (1996/1997: 4) mengungkapkan bahwa “PTK merupakan bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas secara lebih profesional’. Dengan demikian, PTK dipandang sebagai upaya guru untuk merefleksi diri berkaitan dengan tugas yang dilakukannya dalam upaya proses pembelajaran sehingga diharapkan adanya peningkatan kualitas hasil belajar, sebagaimana diungkapkan oleh Kasbolah (1998/1999:15) “penelitian tindakan kelas bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran”.
Wiriatmadja (2006:13) mengungkapkan bahhwa:
Penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Mereka dapat mencobakan suatu gagasan perbaikan dalam praktek pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu”.
Dengan PTK guru dapat mencobakan suatu gagasan perbaikan dalam memecahkan masalah pembelajaran. Setelah PTK sudah dilaksanakan, guru dapat melihat secara nyata pengaruh penelitian tersebut. Berhasil atau tidaknya PTK yang dilaksanakan dapat terlihat dari hasil belajar siswa. Jika terjadi peningkatan hasil belajar maka PTK tersebut dapat dijadikan bahan dalam memperbaiki pembelajaran.
Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian praktis yang dilakukan di kelas dan bertujuan untuk memperbaiki hasil pembelajaran. Kemmis dan Carr dalam Kasbolah (1998:13) mengemukakan bahwa ‘penelitian tindakan merupakan suatu penelitian yang bersifat reflektif yang dilakukan pelaku dalam masyarakat sosial dan untuk memperbaiki pekerjaannya, memahami pekerjaan ini serta situasi dimana pekerjaan dilakukan’. Sedangkan Ebbut dalam Kasbolah (1998:16) menyatakan bahwa ‘penelitian tindakan yang merupakan studi yang sistematis dilakukan dalam upaya memperbaiki praktek dalam pendidikan dengan melakukan tindakan’.
2. Lokasi dan subjek penelitian
a. Lokasi penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SDN Pamungguan Kecamatan Kalapanunggal Kabupaten Sukabumi. Secara geografis SD ini berjarak 5 km sebelah timur ibukota Kecamatan Kalapanunggal. Jumlah ruangan terdiri dari tujuh ruang, meliputi enam ruang belajar dan satu ruang kantor. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Pamungguan dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
1) Nilai rata-rata mata pelajaran IPS kelas IV pada ulangan semester genap tahun ajaran 2009/2010 masih rendah, sehingga perlu diadakan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan hasil pembelajarannya.
2) Penelitian tindakan kelas di SDN Pamungguan jarang dilakukan sehingga perlu di adakannya penelitian tindakan kelas agar guru yang mengajar disana terinpirasi untuk melakukan kegiatan penelitian. Semakin sering PTK di lakukan maka kualitas hasil pembelajaran akan semakin meningkat.
3) SDN Pamungguan merupakan SD tempat peneliti bekerja sebagai guru honorer sehingga pelaksanaanya akan lebih lancar.
b. Subyek penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah guru dan murid kelas IV SDN Pamungguan Kecamatan Kalapanungal Kabupaten Sukabumi. Jumlah muridnya 30 orang dengan rincian 13 laki-laki dan 17 perempuan. Guru yang menjadi subyek penelitian ini berpendidikan D2.
3. Data penelitian
Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari: a) subyek siswa kelas IV SDN Pamunguan Kecamatan Kalapanunggal Kabupaten Sukabumi, b) guru sebagai peneliti, c) kelas sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran, d) dokumen sekolah sebagai data penunjang.
4. Instrumen pengumpulan data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi partisipatif dan dokumen hasil praktek. Instrumen penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu: Lembar observasi, lembar wawancara, kuisioner, evaluasi hasil belajar dan catatan lapangan.
Instrumen pengumpulan data yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Lembar observasi. Digunakan untuk mengamati rencana dan pelaksanaan pembelajaran peserta didik dengan pengunaan media gambar. Proses pembelajaran yang diamati antara lain peserta didik yang berkenaan dengan aspek-aspek pelaksanaan pengamatan, mengidentifikasi masalah dan membuat kesimpulan.
b. Pedoman wawancara. Pedoman wawancara berfungsi untuk mengetahui bagaimana persepsi peserta didik tentang proses pembelajaran yang diselenggarakan oleh guru dengan penggunaan media gambar.
c. Kuisioner. Digunakan untuk menjaring keabsahan data dan reliabelitas (keajegan data) mengenai pendapat guru mitra penelitian, guru teman sejawat, kepala sekolah dan siswa tentang penggunaan media gambar.
d. Evaluasi hasil belajar. Dilakukan untuk menjaring data validitas dan reliabilitas data mengenai peningkatan hasil belajar peserta didik meliputi hasil post tes, tes formatif, pengamatan proses pembelajaran mengenai hasil belajar tentang kenampakan alam dan keaneka ragaman sosial indonesia dengan penggunaan media gambar.
e. Catatan lapangan, dipakai untuk memperoleh data secara objektif yang tidak dapat terekam melalui lembar obaservasi, seperti aktivitas siswa, reaksi mereka selama penelitian berlangsung dan petunjuk-petunjuk lain yang dapat dipakai sebagai bahan dalam analisis dan untuk keperluan refleksi.
5. Teknik analisis data
Bentuk penelitian tindakan yang diterapkan adalah penelitian tindakan yang dilakukan secara kolaboratif. Pengolahan dan analisis data pada penelitian ini dilaksanakan melalaui tahap-tahap sebagai berikut:
a. Pengumpulan data
Data yang diperoleh dapat berupa data kuantitatif dan data kulaitatif. Data kuantitatif diperoleh dari rencana pembelajaran, pelaksanaan tindakan saat kegiatan belajar mengajar, hasil tes belajar peserta didik dan dari lembar observasi. Sedangkan data kualitatif di ambil dari aktivitas guru dan murid, antusias murid dan mutu kegiatan pembelajaran yang dilakukan.
b. Validasi data
Agar diketahui keabsahannya, data yang terkumpul dicek dan recek. Teknik validasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1) Triangulasi data, yaitu teknik pemeriksaan kesahihan (validitas) data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Dengan demikian, melalui triangulasi, peneliti dapat merecek temuannya dengan jalan membandingkannya dengan berbagai sumber, metode atau teori (Moleong, 2006: 332). Untuk itu maka peneliti dapat melakukanya dengan jalan mengajukan berbagai pertanyaan yang bervariasi, melakukan pengecekan dengan berbagai sumber data, dan menggunakan bermacam-macam metode agar pengecekan kepercayaan data dapat dilkukan seobjektif mungkin.
2) Audit trail, yaitu mengecek kesahihan temuan penelitian dan prosedur penelitian yang telah diperiksa dengan menginformasikan dan mendiskusikan temuan penelitian tersebut untuk mendapatkan masukan dan tangapan-tangapan, sehingga bisa memperoleh anaisis dan validitas yang tinggi.
3) Member check, yatiu mengecek kebenaran data temuan penelitian dengan menginformasikan kepada responden (sumber iformasi). Selain itu, data yang diperoleh tersebut juga dikonfirmasikan kepada teman sejawat melalui refleksi, diskusi balikan pada setiap siklus sampai akhir keseluruhan pelaksanaan penelitian tindakan, sehingga terjaring data yang lengkap dan memiliki kadar validitas yang tinggi.
c. Interpretasi data
Dari temuan data penelitian diinterpretasikan dengan merujuk kepada acuan teoritis yang disepakati atau berdasarkann intuisi guru mengenai situasi pembelajaran yang baik tentang penggunaan media ambar, sehingga diperoleh suatu kerangka yang bermakna terhadap kualitas pembelajaran.
Arikunto, dkk. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:Bumi Aksara
Burhanudin, TR.(2007). Pendekatan, Metode, dan Teknik Penelitaian pendidikan (sebuah pengantar praktis).Purwakarta:untuk lingkungan sendiri
Depdikbud.(1995/1996).Pedoman Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar di Sekolah dasar.Jakarta: Dirjen Dikdasmen: Direktorat Pendidikan Dasar.
Hamalik, o.(1995). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Hery Hermawan, A, Badru zaman dan cepi riyana.(2008).Media Pembelajaran Sekolah Dasar.Bandung:UPI PRESS.
Kasbolah, K.E.S (1998/1999). Penelitian Tindakan Kelas (PTK).Jakarta: Departemen P dan K DIKTI, PGSD.
Sudjana, N.(2005).Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar.Bandung:Sinarbaru Algesindo.
Sumaatmadja,N.(1999).Pengajaran IPS di SD.Bandung:IKIP Bandung
Wibawa, Basuki dan Farida Mukti.(1992/1995).Media Pengajaran.Jakarta:Depdikbud, dirjen dikti PPTK.
Wiraatmadja, R.(2006).Metode Penelitian Tindakan Kelas.Bandung:Remaja Rosdakarya.
Kamis, 03 Desember 2009
lagu penyemangatku
BINTANG DI LANGIT (lebay bangt ya B, peterpan lagi peterpan lagi..hi..hi)
Q menatap langit yang tenang
dan takkan menangisi malam
tuk tetap berdiri melawan hari
q akan berarti, q takkan mati
Mungkin masaku tlah berlalu
mungkin hatiku tak berbentuk lagi
rasa ini takkan terobati
tetapi mati takkan mengobati
Q menatap langit yang tenang
dan takkan menangisi malam
tuk tetap berdiri melawan hari
q akan berarti, q takkan mati
Mungkin masaku tlah berlalu
mungkin hatiku tak berbentuk lagi
rasa ini takkan terobati
tetapi mati takkan mengobati
Selasa, 10 November 2009
PENGALAMAN KKN (Kuliah Kerja Nyata)
KKN merupakan kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa sebagai bentuk pengabdianya kepada masyarakat sesuai dengan tridharma perguruan tinggi. Biasanya dilakukan pada semester 6 dan berbobot 2 SKS. Sebagai mahasiswa tentu ja q mengalaminya.
Q melaksanakan kegiatan KKN di Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang, daerah perbatasan antara subang dan sumedang. Daerahnya agak terpencil, masih bercorak pedesaan, alamnya masih asri, banyak pohon, air sungainya masih jernih dan dekat dengan pegunungan, suhu udaranya juga sejuk, hal ini mengingatkanku pada tempat tinggalku di sukabumi. Daerah tanjung siang di pilih sebagai tempat KKN karena masih ada penduduknya yang ga bisa baca tulis.
Waktu pelaksanaan kegiatan KKN-nya adalah pada pertengahan juli sampai pertengahan agustus (10 juli-14 agustus,2009), lama kegiatannya sekitar satu bulan lebih 4 hari, lumayan lama juga. Hal ini menyebabkan 2 bulan q ga bisa pulang ke sukabumi.
Program KKN yang q jalani yaitu PBA (Pemberantasan Buta Aksara) dan bakti ke kantor desa setempat. Mengenai PBA kegiatannya adalah melakukan pengajaran kepada masyarakat yang belum bisa baca tulis sedangkan untuk bakti ke desa kegiatannya membantu aparat desa dalam melakukan tugasnya seperti membuat KTP, administrasi desa, kegiatan kepemudaan dan lain-lain.

Di antara aggota kelompok yang berjumlah 12 orang ada 4 orang yang ditunjuk menjadi staf pengajar, salah satunya adalah aq, temen-temen KKN menganggap q punya pengalaman ngebimbel, jadi tidak kaku lagi kalau mengajar. Q seneng bisa jadi staf pengajar karena q bisa bantu penduduk yang gak bisa baca tulis secara langsung.
Kegiatan PBA dilaksanakan dari hari senin sampai jum'at
pada pukul 13.00-15.00 WIB dengan melibatkan 25 orang penduduk yang ga bisa baca tulis. Muridnya adalah warga desa tanjungsiang yang ga bisa baca tulis, kebanyakan dah pada tua sekitar 45 tahun ke atas tapi da juga yang berumur 20 tahunan. Ternyata ngajar orang tua lebih susah daripada ngajar nak SD namun suasananya pembelajarannya lebih tenang.
pada pukul 13.00-15.00 WIB dengan melibatkan 25 orang penduduk yang ga bisa baca tulis. Muridnya adalah warga desa tanjungsiang yang ga bisa baca tulis, kebanyakan dah pada tua sekitar 45 tahun ke atas tapi da juga yang berumur 20 tahunan. Ternyata ngajar orang tua lebih susah daripada ngajar nak SD namun suasananya pembelajarannya lebih tenang.Untuk kegiatan bakti ke desa di laksanakan tiap hari senin sampai jum'at pada pukul 08.00-12.00. Tiap hari ada 4 orang yang kedesa menurut jadwal piketnya masing-masing, aq sendiri kebagian piket hari senin dan rabu. Kegiatannya bantuin administrasi desa seperti bikin KTP, akta kelahiran, surat menyurat dan bantuin kegiatan kepemudaan.
Dalam melaksanakan kegiatan KKN kita menyewa sebuah rumah pen
duduk untuk tempat tinggal dan posko KKN. Suasana dalam rumah penuh kekeluargaan, semua temen-temen KKN saling menghormati satu sama lain, lawpun di antara temen-temen q sempat terjadi konplik tapi dapat di atasi, q menganggapnya sebagai suatu hal yang wajar. Di balik penampilan temen-temen q yang keliatan intelek di kampus, eh ternyata law dah di rumah pada gokil-gokil, penuh dengan canda tawa. mereka sangat menikmati kegiatan KKN ini.
duduk untuk tempat tinggal dan posko KKN. Suasana dalam rumah penuh kekeluargaan, semua temen-temen KKN saling menghormati satu sama lain, lawpun di antara temen-temen q sempat terjadi konplik tapi dapat di atasi, q menganggapnya sebagai suatu hal yang wajar. Di balik penampilan temen-temen q yang keliatan intelek di kampus, eh ternyata law dah di rumah pada gokil-gokil, penuh dengan canda tawa. mereka sangat menikmati kegiatan KKN ini.Dalam kegiatan KKN ada acara sunatan masal gratis bagi penduduk tanj
ungsiang sebagai bentuk kegiatan bakti sosial. Hal yang unik di subang adalah ada upacara adat ketika seorang anak di sunat namanya gotong sisingaan. Q sendiri ikut terlibat, q kebagian tugas pegang payung dalam upacara adat tersebut, seneng juga rasanya tapi cape banget, qrain pegang payung tugasnya cuman diem doang, eh ternyata ada gerakannya juga. q harus lari-larian.
ungsiang sebagai bentuk kegiatan bakti sosial. Hal yang unik di subang adalah ada upacara adat ketika seorang anak di sunat namanya gotong sisingaan. Q sendiri ikut terlibat, q kebagian tugas pegang payung dalam upacara adat tersebut, seneng juga rasanya tapi cape banget, qrain pegang payung tugasnya cuman diem doang, eh ternyata ada gerakannya juga. q harus lari-larian. Ada cerita unik ketika q KKN, suatu hari listrik di daerah tanjungsiang mati seharian, hal ini menyebabkan banyak kerugian, salah satunya adalah habisnya ketersediaan air untuk keperluan sehari-hari, air habis karena pompa air ga bisa berfungsi karena listriknya mati. Karena terdesak maka q mandi di sungai, malu juga rasanya, mengingatkanku pada masa kecilku yang suka mandi di sungai. Walaupun di sungai tapi airnya jernih banget. Dengan PD-nya q mandi bareng temen-temen cowoq. Kita hanya saling menertawakan dan bercanda satu sama lain.
Menjelang ahir KKN sekitar minggu ke empat q sama tmen2 main ke pedalaman kecamatan tanjung siang. kita masuk jalanan pedalaman yang berbatu pake motor yang memakan waktu hampir 2 jam lamanya. Sempet deg2gan juga karena bensin dah mau abis tapi tempat tujuan lum nyampe juga, ampir aja tersesat, tapi untungnya ga terjadi, pas bensin mu abis eh ketemu juga jalan utama yang ramai. slamet2. pengalaman yang seru. tmen2 cwoku mang pada gokil waktu KKN masih ja sempet backpackeran.
KKN pun selesai dan sebagai penutupan da acara masak-masak dengan penduduk yang ikut PBA. Rasanya aneh banget haru tapi seneng, sedih karena q harus meninggalkan warga belajar dan desa tanjung siang. seneng karena q dah kangen sm keluarga, 2 bulan q ga ktemu sm keluargaku. Sebagai hiburan kelompok KKN q main ke tangkuban perahu, seru juga rasanya, semua bebanku jadi ilang.

Buat penduduk tanjungsiang q ucapkan terima kasih untuk semuanya. banyak pelajaran yang q dapat dari kegiatan KKN ini. Tanjungsiang kan q kenang sebagai salah satu tempat yang ku singgahi dalam mengejar impianku.
Langganan:
Postingan (Atom)

